oleh : L. Mustakim Patawari,LM, M.Si
Kata “Fitrah” bagi masyarakat Sumbawa Barat (KSB) telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian. Nilai ini bukan hanya hadir saat Idul Fitri, tetapi telah dijadikan fondasi filosofi dalam membangun daerah sejak masa kepemimpinan Buya Zul, Bupati pertama hasil Pilkada, melalui rumusan yang dikenal sebagai “Peradaban Fitrah”.
Fase 10 tahun pertama perjalanan KSB begitu terasa ghiroh (semangat) membangun peradaban fitrah. Nilai itu tidak hanya hidup dalam forum-forum resmi para pengambil kebijakan, tetapi juga mewarnai percakapan sehari-hari masyarakat. Masih kuat dalam ingatan kita prinsip “Tebar Salam” dengan tiga nilai utama: “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” dan komitmen pemerintah saat itu dalam menjamin rasa aman bagi seluruh warganya.
Semangat membangun peradaban fitrah juga tercermin dalam karya monumental: tata ruang kawasan KTC yang menempatkan Kantor Bupati sejajar dengan Masjid Agung pada satu garis arah kiblat, berdirinya Tugu Syukur, hingga nama “Graha Fitrah” yang disematkan sebagai simbol identitas. Dari sisi kebijakan, konsep pembangunan berbasis RT dan sejumlah program afirmatif menunjukkan kuatnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Namun, setelah KSB berusia 21 tahun, muncul pertanyaan reflektif: “Adakah sesuatu yang hilang?” Pertanyaan ini perlu direnungkan bersama agar Allah SWT memberi ilham bagi kita menemukan jawabannya.
Menjelang HUT ke-22 KSB pada November mendatang, sudah sepantasnya kita bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah melalui hadirnya daerah ini. Namun, rasa syukur itu harus dibarengi dengan tanggung jawab moral untuk menjaga agar KSB tetap berjalan di atas rel peradaban fitrah.
Sayangnya, dinamika sosial akhir-akhir ini justru menunjukkan gejala yang bertolak belakang. Setelah polemik revisi perda tentang penyakit masyarakat (miras), kini publik dihebohkan lagi dengan maraknya praktik prostitusi online atau oleh sebagian disebut “bisnis lendir”. Realitas ini jelas memprihatinkan, terlebih muncul di daerah yang dicita-citakan menjadi daerah berperadaban fitrah.
Tulisan ini bukan untuk mencari siapa yang salah, apalagi mencari kambing hitam. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk menyadarkan diri, bergandeng tangan, dan kembali meneguhkan prinsip awal membangun KSB yaitu bersama-sama menghadirkan hal-hal positif yang sejalan dengan semangat peradaban fitrah.(S1)
Penulis adalah Ketua PKKP Undova
Komentar