
Mataram – Ancaman cuaca ekstrem kian menguat di kawasan lereng Gunung Rinjani dan Gunung Tambora. Dua wilayah yang menjadi tulang punggung produksi pangan Nusa Tenggara Barat itu kini masuk dalam perhatian serius Pemerintah Provinsi NTB.
Untuk merespons situasi tersebut, pemerintah menyiagakan lima langkah utama guna menekan risiko bencana hidrometeorologi sekaligus menjaga keselamatan warga dan keberlanjutan sektor pertanian.
Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik, menegaskan bahwa percepatan penyebaran informasi cuaca menjadi kunci dalam menghadapi kondisi ini.
“Kami memastikan informasi dari BMKG diteruskan secara cepat melalui kanal resmi pemerintah dan jejaring di daerah, agar masyarakat di lereng Rinjani dan Tambora bisa melakukan antisipasi sejak dini,” ujarnya di Mataram, Kamis.
Di lapangan, pemetaan wilayah rawan terus dipercepat. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memfokuskan pemetaan pada titik-titik rawan banjir bandang, longsor, dan luapan sungai, termasuk jalur-jalur vital yang selama ini kerap terputus saat bencana.
Perhatian khusus juga diarahkan ke sektor pertanian dan perkebunan. Pemerintah menilai kawasan lereng Rinjani dan Tambora tidak hanya rentan secara geografis, tetapi juga strategis bagi ketahanan pangan daerah.
“Kami mendorong penyesuaian jadwal tanam, penguatan saluran pembuangan air di lahan pertanian, mitigasi risiko erosi, serta pendampingan teknis kepada petani agar produktivitas tetap terjaga,” kata Ahsanul.
Dari sisi kesiapsiagaan, pemerintah memastikan ketersediaan logistik dasar dan menyiapkan skema respons cepat jika kondisi memburuk dan memaksa dilakukan evakuasi warga.
Pemprov NTB juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan potensi bahaya, terutama bagi warga yang tinggal di dekat tebing, bantaran sungai, dan wilayah dengan riwayat longsor, serta terus mengikuti informasi resmi perkembangan cuaca.

Komentar